Di Balik Alasan Bijak “Sedang Menunggu Waktu yang Tepat”
Oleh : Tanjak Bertuah
Sering kali kita bersembunyi di balik kalimat yang terdengar bijak: “Saya sedang menunggu waktu yang tepat.”
Kalimat itu seolah menunjukkan kesabaran dan perhitungan matang. Padahal, tidak jarang, ia hanyalah bentuk penundaan yang dibungkus rapi dengan kata-kata indah.
Kita ingin segalanya sempurna — kondisi aman, pikiran jernih, dukungan penuh, dan keberuntungan berpihak. Namun, dalam kenyataannya, “waktu yang tepat” hampir tidak pernah benar-benar datang. Dunia tidak akan pernah benar-benar siap untuk kita; justru kitalah yang harus menyiapkan diri untuk dunia.
Menunggu bisa menjadi jebakan halus. Ia membuat kita merasa rasional, padahal kita sedang menunda karena takut gagal, takut ditolak, atau takut terlihat belum cukup baik. Kita menghibur diri dengan berkata “belum saatnya”, padahal yang sebenarnya kita lakukan adalah menunda keberanian.
Padahal waktu terus berjalan — tanpa menoleh, tanpa menunggu siapa pun. Peluang datang dan pergi begitu cepat, dan keberanian yang dulu besar bisa perlahan menyusut jika terlalu lama dibiarkan diam.
Keberanian tidak tumbuh di zona nyaman; ia hanya muncul ketika kita berani melangkah, meski langkah itu goyah dan penuh ketidaksempurnaan.
Kapal tidak diciptakan untuk diam di pelabuhan. Begitu pula hidup — ia tidak dirancang untuk penundaan. Maka berhentilah mencari angin sempurna untuk berlayar. Mulailah sekarang, dengan segala kekurangan dan keraguan yang ada. Karena sesungguhnya, “waktu yang tepat” bukan sesuatu yang kita tunggu, melainkan sesuatu yang kita ciptakan — lewat keberanian untuk bertindak.
