Fakhtiar Qadri Nahkodai Golkar Bengkalis, Saatnya Merajut Soliditas dan Meredam Sekat Politik
Duri, Rbc – Babak baru perjalanan Partai Golkar di Kabupaten Bengkalis resmi dimulai. Terpilihnya Fakhtiar Qadri sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bengkalis dalam Musyawarah Daerah (Musda) di Hotel Grand Zuri, Kecamatan Mandau, Selasa (27/10/2026), bukan sekadar pergantian pucuk pimpinan, melainkan awal dari pekerjaan besar untuk memperkuat organisasi dan meneguhkan kembali peran politik partai berlambang pohon beringin itu.
Fakhtiar ditetapkan setelah memperoleh dukungan seluruh suara dalam sidang yang dipimpin perwakilan DPD Golkar Provinsi Riau, Ikhsan.
Dukungan penuh tersebut menjadi modal awal bagi kepemimpinan baru. Namun, di balik hasil yang bulat itu, terdapat tanggung jawab untuk memastikan soliditas kader tidak berhenti pada forum Musda, melainkan tumbuh menjadi kekuatan organisasi yang nyata hingga ke tingkat kecamatan.
Musda kali ini juga menghadirkan pesan politik yang lebih luas. Pernyataan Bupati Bengkalis Kasmarni, Ketua DPD Golkar Riau Yulisman, dan Ketua DPD Golkar Bengkalis Syahrial memperlihatkan pentingnya membangun komunikasi lintas politik. Setelah dinamika Pilkada berlalu, hubungan yang konstruktif dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas politik sekaligus membuka ruang kolaborasi untuk kepentingan masyarakat.
Bagi Fakhtiar, amanah yang diterimanya menjadi titik awal untuk membawa Golkar Bengkalis bergerak lebih baik. Ia menegaskan komitmennya memperkuat organisasi sekaligus meningkatkan kontribusi partai dalam pembangunan daerah.
“Ke depan, kita akan membawa Golkar Bengkalis menjadi lebih baik. Golkar juga siap ikut membangun Kabupaten Bengkalis agar kehadirannya semakin bermakna bagi masyarakat,” ujar Fakhtiar.
Pernyataan tersebut menempatkan kepentingan masyarakat sebagai salah satu arah kerja politik Golkar ke depan. Partai tidak cukup hanya hadir dalam agenda formal atau momentum politik tertentu, tetapi juga perlu menunjukkan peran melalui kerja organisasi dan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat. Di sinilah kepemimpinan baru akan diuji: bagaimana menerjemahkan komitmen menjadi langkah konkret.
Pekerjaan berikutnya adalah merapikan barisan hingga ke tingkat kecamatan. Fakhtiar menyadari bahwa kekuatan partai tidak hanya ditentukan oleh kepemimpinan di tingkat kabupaten, tetapi juga oleh keterlibatan seluruh jajaran. Karena itu, ia mengajak para pimpinan Golkar di kecamatan untuk tetap menjalankan organisasi sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), sembari menjaga kebersamaan dan memperkuat koordinasi antar kader.
“Saya mengajak seluruh pimpinan Golkar di kecamatan untuk terus bekerja sesuai AD/ART partai. Kita harus menjaga kebersamaan dan memperkuat organisasi agar Golkar dapat terus berkontribusi bagi masyarakat,” katanya. Pesan tersebut menegaskan bahwa konsolidasi bukan sekadar menyusun kepengurusan, melainkan membangun disiplin, menyatukan langkah, dan memastikan seluruh struktur partai bergerak dalam arah yang sama.
Di sisi lain, pesan sinergi yang disampaikan Yulisman dan Kasmarni menjadi pengingat bahwa dinamika politik tidak semestinya terus memelihara sekat setelah Pilkada. Perbedaan pilihan merupakan bagian dari demokrasi, tetapi kepentingan pembangunan daerah membutuhkan komunikasi dan kerja sama yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, Golkar memiliki ruang untuk menjalankan peran politiknya secara konstruktif, tanpa kehilangan fungsi organisasi dan tanggung jawab kepada masyarakat.
Tantangan kepemimpinan Fakhtiar kedepan pun tidak ringan. Penguatan kepengurusan, konsolidasi kader, pemeliharaan soliditas internal, serta pembentukan hubungan yang sehat dengan pemerintah daerah akan menjadi bagian dari agenda yang perlu dituntaskan. Dukungan penuh dalam Musda merupakan awal yang baik, tetapi keberhasilan kepemimpinan akan lebih ditentukan oleh kemampuan menjaga kepercayaan kader dan menghadirkan kerja nyata bagi masyarakat Bengkalis.* (ae)
