Catatan untuk Apologet (Bagian III-Terakhir)
Catatan untuk Apologet (Bagian III-Terakhir)
Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera)
Setelah dua artikel sebelumnya dibahas materi dan latarbelakang hidup Apologet berikut secara tuntas, berikut dibahas misi yang dibawa para Apologet berupa pesan-pesan yang menjadi puncak tujuan.
Sebab hidayah dapat bermakna hadiah maka darinya tidak mesti bersifat murah, semisal sebatas literatur-literatur standar pasar. Hidayah adalah kesungguhan, kehati-hatian serta kekhidmatan.
Tidak hendak menghalangi kreativitas atau usaha belajar dan pencarian kebenaran/kebijaksanaan, namun menghindari uforia berlebihan, berikut penulis ungkap beberapa catatan yang dirasa penting dicermati khususnya para mujahid jalur apologet.
Pertama, masuk Islam berarti mengikuti Yesus. Ungkapan ini sangat berani bagi kita manusia yang masih lekat dan rentan serta masih sering bersinggungan dengan hal-hal keduniaan.
“Ya!” Barang-barang canggih, teknologi sampai benda mewah berbanding terbalik dengan kehidupan Yesus atau Nabi Isa yang diceritakan dalam kitab-kitab (manapun). Bahkan, dalam Islam Nabi Isa dengan kesederhanaan luar biasa sampai rumah atau tempat tinggal tidak punya hingga detik ini sampai nanti kiamat.
Pertanyaannya, ummat sekarang bagaimana?! Tidak terkecuali Apologet, bagian dari Yesus mana yang hendak dibangun/konstruk?!
Kedua, rusaknya ajaran Yesus. Satu hal yang patut disayangkan adalah dijaminnya eksistensi pengikut Isa hingga Kiamat namun tidak adanya jaminan akan penjagaan kemurnian ajarannya.
Penyimpangan demi penyimpangam justru banyak dikisahkan bahkan oleh para rahib/pendeta mereka yang tidak mampu menjaga perjanjian kuat yang mengikat mereka. Meski demikian, Islam sejatinya mengakui ajaran Yesus seperti contoh pernikahan yang diselenggarakan dalam ajaran Katolik misalnya adalah dinggap sah dan bukan zina.
Ketiga, belenggu zaman. Sejarah, peradaban dan perkembangan manusia yang semula diusakan untuk menjadi harapan adanya kebaikan padanya justru mengkrangkeng ajaran Isa sedemikian rupa hingga membelenggu pengikutnya.
Kesulitan ajaran (dogma dan doktrin) ritual peribadahan, sampai urusan perniagaan dalam menjangkau pengikutnya untuk menjadi pengikut Isa secara sesungguhnya.
Meski begitu, ketulusan beberapa dari mereka yang tentu diperhitungkan Tuhan sebagai kebaikan sekaligus menjadi bukti bagi eksistensi mereka untuk dapat menembus zaman demi zaman.
Demikian juga terkait syafaat, bahwa Nabi Isa tidak seperti para nabi sebelum beliau ‘Alaihissalam yang mereka ‘Alaihimussalaam menolak lantaran merasa melakukan kesalahan (seperti kebinasaan terhadap kaumnya yang ingkar), menunjuk Nabi Muhammad karena kemuliaannya.
Demikian Catatan ini sebagai bagian rangkaian terakhir dibuat ringkas. Harapannya dapat bermanfaat. Agar menjadi pelajaran dan hikmah tidak hanya bagi Apologet, namun juga para calon pengikut Apologet tersebut berikut penonton yang banyak menyaksikan video-video tentang Apologet, demikian! ®
