Sambut Ramadan, Forkopimda Pelalawan Hadiri Festival Togak Tonggol dan Balimau Kasai di Langgam

 

​PELALAWAN RBC – Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadan 1447 H, jajaran Forkopimda Kabupaten Pelalawan menghadiri perhelatan akbar Festival Adat Togak Tonggol dan tradisi Mandi Balimau Kasai. Acara ini dipusatkan di Balai Anjungan Ranah Tanjung Bunga, Kecamatan Langgam, Senin (16/2/2026).

​Hadir langsung dalam kegiatan tersebut Bupati Pelalawan H. Zukri, Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara, S.I.K., serta Wakil Bupati Husni Tamrin. Kemeriahan acara ini juga dihadiri oleh Anggota DPD RI Sewitri, Ketua TP PKK Pelalawan sekaligus Anggota DPRD Provinsi Riau Sella Pitaloka, S.IP., M.Si., Sekretaris Daerah Kabupaten Pelalawan Tengku Zulfan, perwakilan perusahaan (PT EMP Bentu dan PT RAPP), serta para tokoh adat dan masyarakat setempat.

​Dalam sambutannya, Bupati Zukri menegaskan bahwa Togak Tonggol bukan sekadar seremoni, melainkan identitas daerah yang telah diakui secara nasional. Tradisi ini telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dan meraih Juara I Kategori Atraksi Budaya Terbaik pada ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2025.

​”Togak Tonggol adalah simbol penyelesaian sengketa. Jika ada tonggol (bendera adat) yang tidak naik, itu pertanda ada persoalan yang belum tuntas. Makna terdalamnya adalah kita harus saling memaafkan dan mendamaikan persaudaraan sebelum memasuki bulan suci,” ujar Bupati Zukri.

​Senada dengan Bupati, Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara, S.I.K., menyampaikan apresiasi tinggi kepada para pemangku adat yang konsisten menjaga kelestarian budaya Melayu. Menurutnya, potensi wisata budaya ini dapat menjadi magnet bagi wisatawan luar untuk berkunjung ke Langgam.

​”Kami sangat mendukung pelestarian budaya ini. Selain mempererat silaturahmi, tradisi ini menciptakan harmoni di tengah masyarakat. Harapannya, nilai-nilai luhur ini terus dijaga oleh generasi muda,” pungkas Kapolres.

​Perayaan ditutup dengan tradisi Mandi Balimau Kasai di tepian sungai, sebuah simbol penyucian diri lahir dan batin bagi masyarakat Melayu sebelum menjalankan ibadah puasa. Acara berlangsung khidmat dan meriah, mencerminkan kekayaan budaya yang masih kental di Bumi Seiya Sekata. (PlmT)